Senin, 16 Januari 2017
Profil Arsitektur
Posted on 18.20by Lola agustina with No comments
ARSITEKTUR
Arsitektur
adalah seni yang dilakukan oleh setiap individual untuk berimajinasikan diri
mereka dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas,
arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan,
mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan,
arsitektur lanskap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot
dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses
perancangan tersebut.
· Ruang lingkup dan keinginan
Menurut
Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis
paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik
Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi
(Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi
antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur
lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi,
estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu
sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.
Arsitektur
adalah holak, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi,
humaniora, politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius,
"Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi
dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai
karya seni". Ia pun menambahkan bahwa seorang arsitek harus fasih di dalam
bidang musik, astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam
pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme, fenomenologi strukturalisme,
post-strukturalisme, dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat
yang memengaruhi arsitektur.
· Teori dan praktik
Pentingnya
teori untuk menjadi Referensi praktik tidak boleh terlalu ditekankan, meskipun
banyak arsitek mengabaikan teori sama sekali. Vitruvius berujar:
"praktikdan teori adalah akar arsitektur. Praktik adalah perenungan yang
berkelanjutan terhadap pelaksanaan sebuah proyek atau pengerjaannya dengan
tangan, dalam proses konversi bahan bangunan dengan cara yang terbaik. Teori
adalah hasil pemikiran beralasan yang menjelaskan proses konversi bahan
bangunan menjadi hasil akhir sebagai jawaban terhadap suatu persoalan. Seorang
arsitek yang berpraktik tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan
dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori
tanpa berpraktik hanya berpegang kepada "bayangan" dan bukannya
substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktik, ia memiliki
senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat
mewujudkannya dalam pelaksanaan". Ini semua tidak lepas dari konsep
pemikiran dasar bahwa kekuatan utama pada setiap Arsitek secara ideal terletak
dalam kekuatan idea.
·
Sejarah
Untuk
lebih jelas lihat artikel utama: Sejarah arsitektur. Arsitektur lahir dari
dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif,
keamanan, dsb), dan cara (bahan bangunan yang tersedia dan teknologi
konstruksi). Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika
ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk
melalui tradisi lisan dan praktik-praktik, arsitektur berkembang menjadi
ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau
peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah
seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur
Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga kini masih dilakukan
di banyak bagian dunia.
Permukiman
manusia pada masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus
produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban.
Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan
fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan
baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan.
Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya
arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan.
Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti
khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain
adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba.
Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya
arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para
artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek.
Pada
masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih
penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur.
Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual - Michaelangelo,
Brunelleschi, Leonardo da Vinci - dan kultus individu pun dimulai. Namun pada
saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun
insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini,
seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di
dalamnya masih bersifat umum.
Bersamaan
dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya
engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang
arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika.
Kemudian bermunculanlah "arsitek priyayi" yang biasanya berurusan
dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk
yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, École des Beaux-Arts
di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar
cantik tanpa menekankan konteksnya.
Sementara
itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika
menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya
produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang
mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian
tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses
produksi.
Ketidakpuasan
terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiran-pemikiran
yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk
1907) yang memproduksi objek-objek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik
merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu,
sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan
memilih melihat arsitektur sebagai sintesis seni, ketrampilan, dan teknologi.
Ketika
Arsitektur Modern mulai dipraktikkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan
dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak
sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas
menjadi figur penting dan dijuluki sebagai "master". Kemudian
arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya
dan faktor ekonomi.
Namun,
masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada
tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan,
keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya
melalui Arsitektur Post-Modern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih
dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan
kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa "gubuk berhias / decorated
shed" (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional
sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah
"bebek / duck" (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi
satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern.
Sebagian
arsitek lain (dan juga non-arsitek) menjawab dengan menunjukkan apa yang mereka
pikir sebagai akar masalahnya. Mereka merasa bahwa arsitektur bukanlah
perburuan filosofis atau estetis pribadi oleh perorangan, melainkan arsitektur
haruslah mempertimbangkan kebutuhan manusia sehari-hari dan menggunakan
teknologi untuk mencapai lingkungan yang dapat di tempati. Design Methodology
Movement yang melibatkan orang-orang seperti Chris Jones atau Christopher
Alexander mulai mencari proses yang lebih inklusif dalam perancangan, untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik. Peneilitian mendalam dalam berbagai bidang
seperti perilaku, lingkungan, dan humaniora dilakukan untuk menjadi dasar
proses perancangan.
Bersamaan
dengan meningkatnya kompleksitas bangunan,arsitektur menjadi lebih
multi-disiplin daripada sebelumnya. Arsitektur sekarang ini membutuhkan
sekumpulan profesional dalam pengerjaannya. Inilah keadaan profesi arsitek
sekarang ini. Namun, arsitek individu masih disukai dan dicari dalam
perancangan bangunan yang bermakna simbol budaya. Contohnya, sebuah museum
senirupa menjadi lahan eksperimentasi gaya dekonstruktivis sekarang ini, namun
esok hari mungkin sesuatu yang lain.
PENGARUH SEORANG ARSITEKTUR
TERHADAP LINGKUNGANNYA
Mulai
dari awal perkembangangannya, banyak sekali pembahasan dan teori yang
bermunculan di dalam arsitektur. Bila selama rentang waktu tersebut orang
berusaha untuk mengerti arsitektur, sudah seharusnya juga berusaha untuk
mengerti pelaku di dalam arsitektur. Apakah arsitektur merupakan suatu bidang
yang dikerjakan oleh pelaku profesi, atau merupakan hal yang bisa dilakukan
oleh siapa saja?. Terutama di masa sekarang ini, dimana dan bagaimanakah posisi
profesi arsitek sesungguhnya?.
Sebelum
kita membahas mengenai profesi arsitektur sekarang ini, ada baiknya untuk
memahami terlebih dahulu apa itu profesi. Blankenship mendefinisikan profesi
melalui karakteristik umum yang biasa terlihat. Profesi adalah :
(1)
pekerjaan penuh waktu
(2)
yang melalui pendidikan/pelatihan khusus
(3)
memiliki organisasi profesi
(4)
mempunyai komponen izin kerja (lisensi) dan pengakuan dari masyarakat
(5)
mempunyai kode etik dan hak pengelolaan mandiri (Dana Cuff, Architecture : The
Story of Practice, 1992, p23). Dari ke lima karakekter umum tersebut kita bisa
melihat bagaimana posisi profesi arsitektur di dunia modern pada umumnya dan di
Indonesia pada khususnya.
Arsitektur
Barat berkembang di Eropa sebelum menyebar ke Amerika dan benua benua lainnya.
Pada awal permulaannya, profesi arsitek merupakan profesi kelas tertentu dan
merupakan profesi yang turun temurun dan atau melalui proses pemagangan dalam
waktu yang cukup lama. Revolusi Industri yang bermula di akhir abad ke 18 yang
membawa perubahan besar dalam struktur ekonomi, sosial, dan teknologi juga
memberikan dampak yang sangat besar di dalam arsitektur. Berubahnya struktur
sosial di dalam masyarakat dimana kelas menengah mulai memiliki peranan di
dalam ekonomi, dan banyak dibuatnya publikasi berkenaan dengan arsitektur,
menjadikan profesi arsitektur tidak lagi menjadi profesi eksklusif kelas
tertentu tetapi lebih terbuka bagi semua kalangan bangunan adalah produksi
manusia yang paling kasat mata. Namun, kebanyakan bangunan masih dirancang oleh
masyarakat sendiri atau tukang-tukang batu di negara-negara berkembang, atau
melalui standar produksi di negara-negara maju. Arsitek tetaplah tersisih dalam
produksi bangunan. Keahlian arsitek hanya dicari dalam pembangunan tipe
bangunanyang rumit, atau bangunan yang memiliki makna budaya / politis yang
penting. Dan inilah yang diterima oleh masyarakat umum sebagai arsitektur.
Peran arsitek, meski senantiasa berubah, tidak pernah menjadi yang utama dan
tidak pernah berdiri sendiri. Selalu akan ada dialog antara masyarakat dengan
sang arsitek. Dan hasilnya adalah sebuah dialog yang dapat dijuluki sebagai
arsitektur, sebagai sebuah produk dan sebuah disiplin ilmu.
Sebuah
tren yang sedang berkembang dalam industri konstruksi adalah harapan pelanggan
untuk pengalaman dan rasa produk, bahkan mungkin dengan cara yang disesuaikan.
Tren terakhir akan memperpanjang perlunya memasukkan tidak hanya fungsi dan
estetika, tetapi juga persepsi dan sensasi. Untuk memenuhi tren ini, sementara
pada saat yang sama meningkatkan produktivitas penggunaan teknologi informasi
seperti BIM dan platform teknis telah meningkat dalam proyek konstruksi. Namun
demikian, walaupun investasi yang besar, industri konstruksi belum berhasil
meningkatkan efektivitas dan produktivitas sebanyak industri lain. Jelas adalah
bahwa keberhasilan penggunaan teknologi informasi bergantung pada integrasi dan
kolaborasi dari berbagai ahli dalam suatu proses berkelanjutan dan dinamis. Tim
multidisiplin tersebut dapat terorganisir dalam satu organisasi atau antara
mitra bisnis. Tujuan dari tesis master adalah untuk menyelidiki penggunaan BIM
dan platform teknis dari perspektif arsitektural.
Hal
ini dilakukan dengan mengevaluasi pengaruh dan dampak dari BIM dan platform
teknis peran arsitek dan proses kerja, mengevaluasi bagaimana BIM dan platform
teknis mempengaruhi kolaborasi dan komunikasi antara arsitek dan aktor-aktor
lain di dalam proyek dan mengevaluasi bagaimana arsitek menggunakan BIM dan
teknis arsitektur platform untuk mencapai nilai-nilai, gaya dan kualitas
desain. Tiga belas wawancara dengan peserta dalam tahap desain dua Xchange
proyek Skanska dan lima wawancara dengan pakar di bidang teknologi informasi
telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebuah organisasi
pembangunan multidisiplin, pendidikan awal, pengalaman terdahulu dan berapa
banyak peserta didorong untuk berbagi pengetahuan profesional merupakan faktor
yang memiliki dampak yang besar terhadap keberhasilan hasil akhir dari proyek
konstruksi. Selain platform teknis membatasi pilihan solusi yang mungkin,
memberi persyaratan selain proyek tradisional dan perubahan peran dalam tahap
desain. Risiko terlalu banyak mengandalkan pada teknologi mungkin akan
menyebabkan penurunan kualitas karena kurang pertanyaan. Karena bangunan dibuat
dan dirancang untuk mengalami dan hidup dalam, peserta dalam setiap tahap dari
proyek konstruksi untuk mencapai peran aktif untuk memastikan bahwa hasil akhir
memiliki kualitas hidup yang tinggi. Pengetahuan pengaruh dan profesional
setiap peserta sama pentingnya dalam tahap desain. lurus ke depan dan rencana
komunikasi sederhana terstruktur akan meminimalkan kesalahpahaman dan
memberikan setiap peserta dengan tanggung jawab yang jelas. Selain itu, rencana
kerja untuk setiap peran yang menjelaskan bagaimana sistem platform teknis dan
BIM harus digunakan, mengapa dan apa hasil yang diharapkan adalah, akan
mempermudah pemahaman.
PROFIL ARSITEKTUR
Nama :
|
Mochamad Ridwan Kamil S.T.MUD
|
Tempat dan Tanggal Lahir :
|
Bandung, 4 Oktober 1971
|
Istri :
|
Atalia Praratya Kamil
|
Anak :
|
Camillia Laetitia Azzahra, Emmiril
Khan Mumtaz
|
Almamater :
|
Universitas Of California (S2), Institut
Teknologi Bandung (S1)
|
Riwayat Pendidikan :
|
· SDN
Banjarsari III Bandung (1979-1984)
· SMP
Negeri 2 Bandung (1984-1987)
· SMA
Negeri 3 Bandung (1987-1990)
|
Sosok
wali kota satu ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Bandung sebagai
pemimpin yang membawa perubahan bagi kota Bandung. Berikut biografi dan profil
dari Ridwan Kamil atau akrab disapa Kang Emil yang menjabat sebagai walikota
Bnadung. Ridwan Kamil lahir di Bandung pada tanggal 4 oktober 1971, Emil nama
sapaan akrabnya, ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Emil atau Ridwan
Kamil sebenarnya menyukai berimajinasi sejak masa kecil. Ia suka membaca komik
dan melihat foto dari berbagai kota di luar negeri. Sejak kecil Ridwan Kamil
memiliki semangat kewirausahaan.
Ia
bersekolah di SDN III Banjarsari Bandung tahun 1979 hingga 1984, ketika sekolah
dasar ia telah menjual es mambo buatannya sendiri. Selama bersekolah, Ridwan
Kamil dikenal sebagai sosok yang aktif dan cerdas. Selain aktif di OSIS,
Paskibra dan Klub sepak bola, Emil selalu masuk dalam rangking lima besar di
kelasnya. Setelah tamat sekolah dasar ia kemudian melanjutkan pendidikannya di
SMP Negeri 2 Bandung pada tahun 1984 hingga 1987, kemudian di SMA Negeri 3
Bandung tahun 1987 hingga 1990. Setelah tamat SMA, ia kemudian melanjutkan
pendidikannya di Institut Teknologi Bandung dengan mengambil jurusan Teknik
Arsitekturdari tahun 1990 hingga 1995. Ridwan Kamil juga aktif dalam
kelompok-kelompok mahasiswa dan unit kegiatan seni. Semangat kewirausahaannya
di kampus lagi, untuk mencari dana tambahan untuk kuliah, ia membuat ilustrasi
cat air atau maket untuk dosen.
Salah
satu Karya Desain Arsitektur Urbane Ridwan Kamil
1. Universitas
Tarumanegara Kampus 1, Jakarta (2005)
Sumber
Gambar: http://www.urbane.co.id/#/projectid=63
2. Mesjid
Agung Sumatra Barat, Mahligai Minang (2006)
Sumber
Gambar: http://simbi.kemenag.go.id/simas/index.php/profil/masjid/3843/
Langganan:
Komentar (Atom)





